Senin, 25 Februari 2013

KYUMIN shipper... !!!!!

5002_539999372686069_1993637349_n

SMPN 2 BEKASI Dan Lomba Adipura


 Harapan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk meraih piala Adipura 2010, kini sudah menjadi kenyataan dengan meraih Adipura. Bahkan, untuk meraih impian tersebut, kota yang sempat dijuluki sebagai kota sampah ini,telah berubah menjadi kota yang bersih.
Tanggal 8 Juni 2010. Presiden Republik Indonesia (RI) DR Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan Piala Adipura kepada Walikota Bekasi H Mochtar Mohamad di Istana Negara. Penyerahan Piala Adipura tersebut diberikan juga kepada beberapa daerah di Indonesia yang diterima langsung oleh masing-masing kepala daerah dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Dunia.Kota Bekasi menempati urutan IX dibawah Kota Administrasi Jakarta Barat, Kota Administrasi Jakarta Timur, Kota Administrasi Jakarta Utara, Kota Tangerang, Kota Surabaya, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Kota Administrasi Jakarta Pusat dan Kota Palembang di urutan I kategori Kota Metropolitan.
Kini Pemkot Bekasi bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Bekasi telah menggelar Lomba Adipura tingkat SD, SMP, SMK, SMA se kota Bekasi.Lomba ini dilaksanakan dari bulan November 2010 – Maret 2011.
Seperti juga SMPN 2 bekasi pada tahun ini sedang mengusahakan kemenangan lomba adipura se SMP se bekasi. dari pembangunan bangunan 3 lantai, pengecetan ulang, dan peraturan peraturan kebersihan yang lebih di ketatkan. semua warga sekolah mendambakan kemenangan SMP 2 bekasi sebagai pemenang adipura Smp se kota bekasi.

TELEDOR

TELEDOR
Semua siswa terdiam menatap wajah Eliya yang kusut.Kedua matanya basah. Badannya yang gemuk terguncang-guncang menahan tangis.BuWati dan Pak Burham yang berdiri di sampingnya berusaha menenangkannya. Namun Eliya masih terus menangis.
“Anak-anak, mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa Eliya ?” tanya Pak Burham tenang. “ Dia menangis karena uang sekolahnya hilang !” lanjut Pak Burham.
“Uang sekolah Eliya hilang ?” teriak seisi kelas hampir bersama-sama. Seketika kelas pun menjadi gaduh.
“Sudahlah! Kalian diam dulu!” potong Pak Burham. “Sekarang Bapak minta kalian bersikap jujur. Apabila diantara kalian ada yang mengambil uang Eliya tolong dikembalikan.”
Semua siswa pun diam lagi seperti patung.
“Kalian jangan takut. Apabila kalian mengaku,Bu Wati dan Bapak Burhan akan merahasiakan nama kalian,” janji Bu Wati.
“Tetapi bila tidak ada yang mengaku terpaksa Bapak akan mendatangkan paranormal ke kelas ini,” lanjut Pak Burhan.
“Paranormal?” teriak seisi kelas bersamaan. Dan kelas pun kembali ramai.
“Kalian tidak usah takut!” seru Pak Burham. “Yang akan Bapak bawa ke kelas ini bukan orangnya tetapi manteranya yang sudah dirapalkan ke dalam air putih.”
“Oh begitu…!” guman para siswa lega.
“Dalam satu jam nanti kalian akan diajak bicara satu persatu oleh Bu Wati. Kalau tidak ada yang mengaku terpaksa Bapak menggunakan cara yang kedua.” ancam Pak Burham
* * *
Cara pertama ternyata tidak membawa hasil. Para siswa semakin gelisah.
“Menurut kamu siapa, Mir ?” pancing Ratih.
“Siapa ,ya?” pikir Mira.
“Biasanya di saat-saat seperti ini bakat detektifmu muncul,” gurau Ratih.
“Aku mencurigai seseorang, Rat !Tetapi aku tidak percaya kalau dia yang melakukan!”
“Menduga-duga kan boleh?Ayo , menurutmu siapa?” desak Ratih.
“Aku mencurigai Kristian tetapi aku tidak percaya kalau dia pelakunya!” bisik Mira
Ratih manggut-manggut,”Ternyata kita sepaham. Aku juga mencurigai Kristian!”
“Alasanmu apa ?” tanya Mira heran.
“Alasanku?Dia anak baru. Baru satu bulan dia duduk di kelas ini. Sebelum dia masuk kejadian seperti ini tidak pernah ada!” papar Ratih penuh semangat.”Dan setiap istirahat dia tidak mau keluar kelas! Tidak mau jajan. Di kelas hanya baca komik saja!”
“Tetapi itu bukan alasan untuk menuduh dia. Dia tidak mau jajan karena membawa bekal dari rumah. Dia pernah bercerita kepadaku katanya makanan di kantin ini kurang sehat. Dan dia membaca komik untuk refreshing karena dia memang hobi baca komik.” bela Mira
“ Saya tahu, tetapi bisa saja semua itu hanya kedok untuk menutupi kejahatannya!”
“Lalu untuk apa dia mengambil uang Eliya ? Dia anak orang kaya lho,Rat!” ujar Mira.
“Kalau masalah itu saya tidak tahu!” jawab Ratih sambil mengangkat bahunya.”Kalau alasanmu mencurigai Kristian apa?” gantian Ratih yang bertanya.
“ Alasanku?” jawab Mira bingung.
“Ya! Alasanmu mencurigai Kristian apa?” desak Ratih.
“Sama dengan alasanmu!” jawab Mira sambil nyengir.
“Payah kamu! Tidak ilmiah sama sekali!” gerutu Ratih kecewa.
“Sssstttttttt diam…!” perintah ketua kelas ketika mendengar langkah sepatu Pak Burham.
“Ternyata tidak ada yang mengaku. Lihatlah! Gelas ini sudah penuh dengan air yang bermantera. Mantera ini hanya akan bereaksi pada mulut orang yang berbohong. Kalau kalian jujur mantera ini tidak akan bereaksi dan tidak mempunyai efek samping,” papar Beliau serius.
“Pak Burham tidak usah melakukan itu. Sayalah yang mengambil uang Eliya!”
Seketika kelas menjadi gaduh. Seluruh mata menatap Kristian tidak percaya. Bu Wati dan Pak Burham tercengang. Tangis Eliya terhenti.
“Benarkan Mir, dugaanku!” bisik Ratih penuh kemenangan.
“Kristian ! kamu kok tega sama aku !” jerit Eliya.
“Sudahlah!Kalian tenang!” perintah Pak Burham.”Jadi kamu pelakunya,Kris ?”
“Maaf Pak Burham! Maaf Bu Wati! Maaf teman-teman! Sebenarnya bukan hanya uang Eliya saja yang saya ambil!” jawab Kristian tenang. “Lihat !Mobil Tamiya ini milik siapa?,” tanya Kristian sambil mengeluarkan mobil-mobilan kecil dari tasnya.
“Itu milikku!” seru Didin, “Ternyata kamu pencurinya!” teriak didin garang.
“Jangan menuduh, Din! Mobil ini aku temukan di laci mejamu, hari Kamis tanggal satu kemarin . Lihat di sini kutulis datanya! Dan anehnya kamu tidak pernah merasa kehilangan, kamu tidak pernah lapor Bu Wati atau Pak Burham karena kamu mampu membeli lagi,”

Wajah Didin tersipu malu “Maaf Pak! Saya tidak akan membawa mainan lagi ke sekolah”
“Ratih! Ini adalah kalkulatormu!” Kristian kembali merogoh tasnya dan mengeluarkan kalkulator digital. “Jangan menuduh saya pencuri karena kalkulator ini juga kutemukan di laci mejamu. Tepatnya Hari Senin setelah pelajaran matematika.Ternyata kamu selalu menggunakan kalkulator dalam mengerjakan soal matematika. Dan anehnya kamu juga tidak pernah merasa kehilangan.”
Wajah Ratih memerah. Dia tertunduk dan tidak berani lagi menatap ke depan.
“Maaf Bu Watik. Saya menemukan ini di bawah meja Ibu!” lanjut Kristian sambil menunjukkan wesel pos. “Disini tertulis honor menulis cerita anak sebesar seratus lima puluh ribu. Saya temukan tanggal sepuluh yang lalu.Dan ternyata Ibu juga tidak pernah merasa kehilangan uang sebesar ini.”
Gantian wajah Bu Watik yang memerah.
“Lalu uang sekolah Eliya bagaimana?” desak Pak Burham tidak sabar lagi.
“Uang Eliya di dalam komik ini! jawab Kristian sambil menunjukkan komik kesayangannya. “Kemarin Eliya pinjam komik saya dan pagi tadi baru dikembalikan. Jam istirahat tadi saya iseng-iseng membaca komik dan menemukan uang ini. Mungkin Eliya tergesa-gesa sehingga salah menyelipkan uang sekolah ini! Betulkan El?”
“Maaf, Kris! Aku telah menuduhmu yang bukan-bukan. Tadi pagi aku memang tergesa-gesa. Aku teledor sekali!” jawab Eliya sambil mengulurkan tangannya.
“Aku juga minta maaf . Aku juga teledor” sesal Didin sungguh-sungguh.
“Ibu minta maaf ya, Kris.Ibu akan lebih hati-hati lagi,” janji Bu Wati.
Kristian tersenyum menatap teman-temannya. Dalam hatinya ada rasa haru dan bangga berbaur jadi satu.

Sabtu, 12 Januari 2013

perkenalan...

hai....!!!!!
apa kabar ... kabar sentosa bukan ????
huffttt.... grogi banget
perkenalkan nama aku Deviyanti temen-temen bisa panggil aku devi...
dulu aku punya blog yang baru aku buka tapi aku lupa gimana cara bukannya padahal isinya udah banyak banget curhatan-curhatan aku... :(
yaudah bantuan dari kakak ku jadi hiduplah DEVI COUNTRY
aku juga bingung mau nulis apa?? yang penting itu yang aku suka pastunya
yaudah deh gunu aja perkenalannya... see you latter